Rabu, 23 Februari 2011

Raja Bijak Raja Disembah, Raja Lalim Raja Disanggah


Peribahasa bijak selalu hadir di segala jaman. Meski adanya otonomisasi daerah, dimana bupati dan walikota konon sering di-identikan menjadi “raja-raja kecil” namun tidak semuanya berlaku di Payakumbuh. Di sini masyarakatnya terkenal kritis dalam menilai kepemimpinan seseorang. Sebab, dalam sebuah kurun kepemimpinan seorang walikota di Payakumbuh pernah ada yang “diturunkan”  oleh DPRD di tengah jalan. Inilah bukti, bagaimana kritisnya masyarakat di tempat kelahiran SP.
Pada Rabu(5/1) adalah ulang tahun ke-60 dari Walikota Payakumbuh, Sumbar. Salah seorang yang mengucapkannya adalah SP, yaitu menunggu beliau selesai mandi  di rumah dinas dan akan berangkat ke kantor walikota.
1296269514818253108
Bersama Walikota Payakumbuh,Capt.H. Josrizal Zain, SE, MM di rumdis-nya
Dalam analisa SP, sang walikota Payakumbuh yang akan mengakhiri masa jabatannya pada pada 2012 merupakan figur yang cukup bersih dalam menjalankan kepemimpinannya (sampai KPK membuktikan yang lain). Masyarakat Payakumbuh membutuhkan penerus kepemimpinannya yang dapat diterima oleh mayoritas pemilih dalam Pilkada 2012 nanti (bila kebijakan tidak berubah, yaitu tetap Pilkada langsung).
Di Payakumbuh tidak dikenal istilah “raja-raja” kecil yang sering disindirkan media massa selama ini. Yang ada adalah raja jalanan  yang berbeda dengan raja jalanan yang dikenal di Jakarta (sepeda motor). Di sini yang dikenal sebagai raja jalanan adalah yang di bawah ini:
12962704651716703840
Merajai di jalanan di luar stadion pacuan kuda, Payakumbuh
Apa gambar di atas kurang jelas? Baiklah ditambah dengan yang ini:
12962704521570936692
Tidak usah dijelaskan mahkluk apa ini, kan? Kalau juga nggak mengerti, sangat kelewatanlah…
Juga mereka merajai area di dalam stadion pacuan kuda:
12962701981116758018
Menguasai stadion dengan bukan saja menduduki, tapi memijaki dan menghabisi rumput yang ada di dalam stadion

Yang Perlu diperhatikan Walikota Payakumbuh

 
Mungkin ini yang perlu diperhatikan oleh seorang walikota di Payakumbuh menjelang akhir masa jabatannya pada 2012 nanti adalah:
Pertama: Kebersihan di pasar jangan hanya diperhatikan di luar dekat jalan saja.
1296271575813448026
Kondisi pasar di bagian belakang kurang terjaga oleh Dinas Pasar setempat
Kedua, tingkat hunian pasar yang mengkuatirkan namun masih sangat “membuka” pemilik modal besar sehingga  pada Maret 2009 dibukalah Ramayana sebagai “raksasa pesaing” para pengusaha lokal di Payakumbuh.
1296272374161286653
Ramayana diklik dari atas Mesjid Muhammadiyah, Payakumbuh. Dulu adalah kantor Walikota Payakumbuh sebelum pindah di simpang Ngalau, Koto Nan Ampek arah jalan Payakumbuh-Bukittinggi
Ketiga, kapan nih diresmikan los pasar renovasi di  Nunang?
129627261053888615
Los-los pedagang kaki lima yang berada di sekitar Terminal Angkot Kelurahan Nunang
Tiga hal yang menjadi pertanyaan tentang pasar ini sangat mendasar. Mengingat saat ini roda perekonomian masyarakat di Payakumbuh sangat memerlukan kebijakan tentang pasar yang baik. Pemko Payakumbuh hendaknya memperhatikan keberadaan pedagang lokal yang telah menciptakan “pasar” bukan semata membuka peluang para pemilik modal besar seperti Ramayana misalnya. Untuk sementara ini belum terlihat dampaknya antara keberadaan pasar modern yang bersaing dengan pasar tradisional. Namun, lama-kelamaan budaya masyarakat pun akan dipengaruhinya.
Banyak yang perlu dipertahankan diperbaiki dari apa yang sudah ada selama ini, bukan mengadakan yang baru saja.

Kota Kuliner Payakumbuh

Sepanjang jalan Soekarno-Hatta, Payakumbuh geliat PKL kuliner terlihat sejak mulai pukul 16 sore. Mereka umumnya berdagang dengan mendirikan tenda seperti yang terlihat di depan Plaza Payakumbuh yang dibangun pada 1980-an dan mulai terlihat kumuh kondisinya:
12962968521661420744
Umumnya masakan di luar masakan Minang yang umumnya ada di restoran. Sebagian berupa sate Pariaman, Sate Padang Panjang, Martabak Kubang
Para PKL mengambil sebagian jalan yang pada siang hari terlihat lengang,  namun malam hari terlihat seperti pasar malam saja nampaknya.

Referensi Tempat Kuliner di Payakumbuh

Menyambut demikian animo para pembaca kompasiana yang memberikan tanggapan serta menanyakan dimana tempat kuliner yang enak di sepanjang Jalan Soetta, Payakumbuh (kecuali Bakso Borobudur), maka dengan ini SP muat beberapa tempat saja yang memungkinkan untuk didatangi dan dicoba masakannya:
1296381323459941158
Rumah Makan MINANG ASLI. Ini adalah salah satu pemilihan nama yang ingin mengatakan bahwa rumah makan yang didirikan adalah
Selain RM yang mencitrakan masakan Minangkabau lainnya seperti RM Asia Baru, ternyata Kota Payakumbuh sangat toleran dengan banyaknya aneka kuliner dari luar daerah Sumatera Barat seperti Bakso Borobudur dan Bakso Ateng.
1296381682515750584
Tidak sempat SP tanya apakah pemiliknya adalah Ateng si Pelawak seangkatan Edy Sud dan Bing Slamet. Atau bisa juga mungkin berarti
Selain yang ada kedua di atas, berhubung hp kamera  sudah low bat, maka tidak bisa ditampilkan lainnya. Kompasianer, Yunus sudah sempat mengatakan ada juga RM Pergaulan–yang tidak bermaksud menyaingi lagu Rhoma Irama, “Perdamaian”.
129644538856164743
Tawaran cita rasa lainnya di Payakumbuh
Menu masakan di Payakumbuh terasa akrab dengan lidah siapa saja, tidak terlalu pedas dan tidak terlalu manis.
12964454541171418940
Sudimoro alias sudidatang
Hmm, enaknya bila cicipi masakan di…
129644609066292736
kedai kopi daun
Sambil santai, ah….
12964460361442597545
yuk minuuummm….

Bioskop Boleh Cuma 1, Tapi, Warnet Ada100-an Tempat (Catatan Harian di Payakumbuh)

Kabupaten dan kota yang ada di Sumatera Barat boleh mencibir Payakumbuh yang cuma punya 1 bioskop “taratak bungo karang”, namun urusan warnet (warung internet) di sini ada ratusan lebih. Jauh lebih banyak dibanding Bukittinggi bahkan mungkin Padang, ibukota Sumatera Barat.
12964430221107601877
Inilah salah satu warnet terbesar dengan belasan unit komputer modern dan asri suasanya. Jauh dari kebisingan bila dibanding warnet yang ada di pusat kota, misalnya.
Mengapa begitu? Payakumbuh, dikenal sebagai kota kuliner juga sebagai  Kota Pelajar sebagaimana dikenalnya Yogyakarta sebagai Kota Pelajar.
Cuma, jangan berharap mau naik taxi dari Payakumbuh ke Bukittinggi. Anda akan terlalu lama menunggu. Cukup sediakan uang Rp.6.000,- saja, maka dapat Anda tempuh selama 33  menit Bukittinggi dengan otobus yang cukup kuno bentuknya.
Ini ada taxi yang terekam laksana UFO saat SP mau ke warnet di Jalan Soekarno Hatta, Payakumbuh.
1296443289860414052
Taxi di Payakumbuh seperti menunggu Crop Circle dan UFO Akan Mendarat Dimana-mana. LIhat http://sosbud.kompasiana.com/2011/01/31/crop-circle-dan-ufo-akan-mendarat-dimana-mana/
Yang perlu ditingkatkan adalah pemeliharaan jalan dan kebersihan saja  di Payakumbuh. Sebab, hingga hari, Senin (31/1/2011) masih  banyak jalan yang rusak parah namun luput dari pemantauan dinas terkait, antara lain jalan di Pasar Payakumbuh yang laksana kubangan kabau (kerbau) besarnya.
1296447856983108469
Kubangan kabau di Jalan Nunang(1)
Lainnya:
12964475591267400741
Di Jalan inilah masyarakat ba-bendi bendi ka Pasa Payakumbuh, aduh beceknya…siapolah yang tanggung, siapolah nan marasai…(syair nyeleneh Babendi-bendi ka Sungai Batang)